Pelapisan merupakan
salah satu upaya untuk menanggulangi korosi dan
penambalan material aus. Sistem
perlindungan utamanya ditujukan untuk memisahkan kontak langsung antara logam
dengan lingkungan agar tidak terjadi korosi, dan juga untuk mendapatkan
sifat-sifat lain seperti ketangguhan, kekerasan, ketahanan aus, dan lain-lain.
Pada umumnya proses pelapisan harus melalui tahapan pengerjaan antara lain
pekerjaan pendahuluan, proses pelapisan dan pengerjaan akhir. Pekerjaan
pendahuluan adalah pembersihan sedemikian rupa bahan yang akan dilapis dari
pengotor, karena persiapan permukaan bahan dasar yang kurang sempurna akan
mengakibatkan daya lekat (adhesi) lapisan
berkurang. Setelah proses pembersihan dilakukan kemudian proses blasting dilakukan untuk mengkasarkan
permukaan sebelum dilakukan spraying.
Pekerjaan pendahuluan ini dapat dibagi dalam dua metoda yaitu dengan cara
mekanik seperti polishing, buffing, semprot
abrasive, sedangkan cara kedua adalah
dengan larutan kimia seperti cuci lemak/minyak, cuci asam, proses zincate, dan lain-lain.
Dalam proses pelapisan, banyak metoda yang dapat digunakan tergantung
pada fungsi dan kegunaan produk yang akan dilapis. Teknik-teknik pelapisan
tersebut bias berupa teknik pelapisan dengan listrik, tanpa listrik, pencelupan
(dipping), semprot (spraying) dan lain-lainnya dibatasi
dengan bahan pelapisan logam dan non logam.
Produk/ logam
yang telah dilapis ada yang diperlukan proses lanjut dengan tujuan untuk
mendapatkan kemampuan daya tahan korosi, memperbaiki tampilannya. Untuk itu
diperlukan pengerjaan akhir dengan cara bubut, cutting, dan lain-lain, sedangkan untuk memperhalus permukaan
lapisan yang kasar dapat dilakukan dengan cara mekanik yaitu polishing, buffing, barreling, dan lain
sebagainya. Pengerjaan akhir ini, banyak dilakukan pada proses lapis dengan
logam baik secara semprot (metal
spraying), celup panas (hot dip),
secara listrik (electroplating) dan
pada proses anodisasi (anodizing)
sebagai proses pewarnaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar