Selasa, 08 Desember 2015

Jenis - Jenis Motivasi

Menurut Malayu SP Hasibuan, (2009: 150)  ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi positif dan motivasi negatif.
1.         Motivasi Positif
Yang dimaksud dengan motivasi positif adalah manajer memotivasi (merangsang) bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi diatas prestasi standart. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan meningkat karena pada umumnya manusia senang menerima yang baik-baik saja.
2.          Motivasi Negatif
Motivasi negatif adalah manajer memotivasi bawahan dengan standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini semangat bekerja bawahan dalam jangka pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang akan berakibat kurang baik

Tujuan Motivasi

Motivasi merupakan proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan persepsi dan lain sebagainya. Adapun tujuan motivasi adalah sebagai berikut:
Menurut Malayu S.P. Hasibuan ( 2005:146) tujuan motivasi yaitu :
1.             Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
2.             Meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
3.             Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan.
4.             Meningkatkan kedisiplinan karyawan.
5.             Mengefektifkan pengadaan karyawan.
6.             Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
7.             Meningkatkan loyalitas, kreatifitas, dan partisipasi karyawan.
8.             Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
9.             Meningkatkan efesiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.
10.         Meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas- tugasnya.
Karyawan yang dalam menjalankan pekerjaannya didasari motif atau bekerja karena dorongan yang menggerakkan jiwa dan jasmaninya maka akan mencapai hasil yang optimal. Motivasi yang ada dalam diri seseorang akan mewujudkan suatu prilaku yang diarahkan pada tujuan untuk mencapai suatu sasaran keputusan. Dengan demikian motivasi merupakan proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara sikap, persepsi dan kebutuhan yang terjadi pada diri seseorang, timbul sebagai akibat dari dalam diri sendiri atau dari luar

Motivasi Kerja

Keberhasilan pengolahan organisasi atau prusahaan bisnis sanggat ditentukan oleh aktivitas kegiatan pendayagunaan sumber daya manusia, dalam hal ini seorang manajer harus memiliki teknik-teknik untuk dapat memelihara prestasi dan kepuasan kerja, antar lain dengan memberikan motivasi kepada bawahan agar dapat melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  
Mangkunegara (2006:185) mengatakan bahwamotivasi merupakan konsep yang digunakan untuk menggambarkan dorongan-dorongan yang timbul pada atau di dalam seseorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Pentingnya motivasi kerja disampaikan oleh Handoko (2000:86), sebagai kekuatan pendorong yang dapat mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan dan kepuasan dirinya. (Ivan Aries dan Iman Ghozali, 2006:126) Motivasi adalah “pemberian dorongan-dorongan individu untuk bertindak yang menyebabkan orang tersebut berperilaku dengan cara tertentu yang mengarah pada tujuan” Sedangkan menurut Edwin B. Flippo (2009: 143) Motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai.

Maka dapat disimpulkan bahwa Motivasi kerja karyawan adalah sesuatu yang menciptakan semangat kerja karyawan atau pekerja, termasuk diantaranya adalah kata-kata pembangkit semangat. Untuk menghasilkan produk yang bermutu dengan hasil yang maksimal, sebuah perusahaan memerlukan karyawan atau pekerja yang termotivasi supaya lebih rajin dalam bekerja, memiliki hasrat keinginan dan semangat juang yang kokoh.

Thermal spray

Thermal spray adalah proses pelapisan dengan  bahan  logam  maupun non logam pada benda kerja dengan cara penyemprotan material cair kepermukaan benda kerja dengan kecepatan tinggi dalam usaha meningkatkan sifat-sifat material. Sifat-sifat yang akan ditingkatkan adalah :
-          Daya tahan korosi
-          Daya tahan gores/aus
-          Daya kontak listrik
-          Mampu pantul/bias cahaya
-          Penyebaran rintangan
-          Daya tahan temperature tinggi
Pada proses thermal spray suatu material awal berbentuk batangan padat (wire atau solid rod) maupun bubuk (powder), seperti logam atau keramik, dicairkan dan disemprotkan dengan kecepatan tinggi menuju permukaan benda kerja. Sumber energi panas (thermal) diperoleh secara kimia, seperti melalui proses pembakaran udara / O2 dan bahan bakar, atau dengan listrik seperti menggunakan busur api (arc). Deposit hasil penyemprotan tadi akan membentuk suatu lapisan terdiri dari tumpukan-tumpukan splat (yaitu partikel individu berbentuk pipih) dari material awal dimana partikel-partikel pipih tersebut mempunyai kecepatan pendinginan tinggi, seperti ditunjukan pada gambar berikut ini
Seperti yang ditunjukan pada gambar 2.2, partikel-partikel akan menumbuk permukaan benda, menipis dan membentuk splat yang rapat, menempel dan mengunci terhadap satu sama lainnya. Pada saat partikel-partikel yang disemprotkan menumbuk permukaan, partikel tersebut akan membeku dan menumpuk lapis demi lapis, membentuk suatu lapisan (coating) berstruktur lamelar pada benda kerja.
Pada umumnya temperature benda kerja dapat dijaga pada 200°C atau kurang, untuk mencegah perubahan secara metalurgi pada material benda kerja. Secara skematis dapat dilihat pada gambar berikut ini (gambar 2.3) dimana hasil coating thermal spray berbentuk struktur lamellar terdiri dari berbagai komponen mikrostruktur yang mempengaruhi integritas hasil coating.

Lebih dari tiga dekade terakhir proses thermal spray telah memberikan konstribusi besar terhadap kemajuan teknologi untuk aplikasi industri, diantaranya industri aerospace yaitu aircraft engine, industri kimia, industri tekstil, industri otomotif sampai pada pengembangan jenis coating biomaterial untuk dunia kedokteran. Hasil pelapisan proses thermal spray dapat digunakan untuk memberikan fungsi penghalang panas (thermal barrier), perlindungan korosi, ketahanan temperature tinggi, ketahanan aus dan juga untuk perbaikan permukaan komponen-komponen berat yang terkena aus dimana penggantian komponen mesin akan sangat mahal.[6]
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses thermal spray adalah :
-          Tekanan pada gas yang dialirkan
-          Kecepatan umpan
-          Jarak torch dengan benda kerja
-          Tekanan udara
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses thermal spray :
-          Material grit harus bersih dan kering
-          Ukuran grit yang optimum adalah 60 mesh
-          Pressure yang digunakan selama proses blasting berkisar antara 45 – 90 Psi
-          Sudut dari nozzle blasting selama proses blasting adalah 60˚, dan bisa bervariasi antara 45˚ - 75˚.
-          Hilangkan debu-debu blasting dari permukaan part setelah proses blasting dengan menggunakan udara tekan kering
-          Udara tekan yang digunakan di area thermal spray harus diyakinkan kebersihannya dari kandungan air, oli, dan grease. Cek filter secara regular
-          Proses spray harus segera dimulai setelah permukaan part di blasting. Jeda waktu maksimum adalah 2 jam
-          Preheat base material dari komponen yang akan di spray pada temperatur 90 - 120˚C
-          Lakukan pengecekan temperatur dari permukaan part menggunkan pyrometer yang terkalibrasi
-          Part yang diletakan pada rotary table harus diputar dengan kecepatan 200 Rpm
  
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam proses thermal spray :
-          Jangan sentuh permukaan yang sudah di blasting, bila tersentuh maka proses blasting harus diulang kembali
-          Jangan menggunakan material grit berulang kali (reused) karena dikhawatirkan material grit telah kotor, terutama bila material tersebut telah digunakan pada komponen-komponen dengan jenis base metal yang berbeda
-          Jangan sampai ada area  yang kurang blasting atau belum cukup kekasarannya (biasanya ditandai dengan permukaan yang masih mengkilap dengan halus)
-          Jangan sampai terjadi over blasting, sehingga kekasaran permukaan yang diinginkan malah berkurang

Berbagai jenis proses thermal spray telah berkembang dan banyak digunakan di dunia industri dewasa ini. Berbagai contoh aplikasi umum proses thermal spray adalah sebagai berikut :
1.      Thermal spray coating untuk pengontrolan keausan material terhadap jenis-jenis abrasion, erosion dan fretting.
2.      Thermal spray coating untuk proteksi korosi dan perawatan infrastruktur terhadap jenis-jenis oksidasi, korosi gas panas dan korosi atmosfir.
3.      Thermal spray coating untuk aplikasi biomaterial pada tubuh manusia seperti implantasi tulang buatan (pin).
4.      Thermal spray coating untuk aplikasi insulasi panas (Thermal barrier coatings) pada ruang bakar engine dan perlindungan terhadap oksidasi terhadap gas panas.
5.      Thermal spray coating untuk permukaan dengan sifat tertentu seperti abradable coating untuk mengurangi celah antara ujung blade dan housing.


Karakteristik akhir serta sifat-sifat coating yang dihasilkan dari proses thermal spray sangat ditentukan oleh beberapa faktor penting, antara lain :
1.      Material awal : jenis, komposisi, bentuk dan ukuran bahan baku powder atau wire yang digunakan
2.      Parameter yang diset-up pada unit pengontrolan seperti : tekanan gas yang diberikan, besarnya tegangan dan arus listrik yang digunakan, kecepatan spray atau deposisi coating dll.
3.      Parameter pada operasi manual yang tergantung dari operator, seperti : pengaturan jarak spray, pengaturan sudut tembak dll.
4.      Tahapan persiapan permukaan benda kerja yang dilakukan sebelum proses thermal spray.
Namun demikian masih banyak parameter-parameter proses lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas akhir coating. Pada proses plasma spray misalnya, di mana partikel-partikel powder “ditanam” (suspended) dalam suatu gas non-reaktif sebagai gas pembawa (carrier gas) untuk memasukan powder ke dalam nyala plasma, kecepatan carrier gas akan sangat berpengaruh selama proses thermal spray. Hal ini disebabkan karena pada saat proses, kecepatan carrier gas akan mempengaruhi kecepatan alir dari massa powder sebagai umpan dan kecepatan tersebut diatur sedemikian rupa untuk meyakinkan masuknya powder ke dalam bagian terpanas dari nyala plasma. Hal ini akan menjamin transfer panas yang efektif serta menjaga efek momentum yang tinggi pada partikel-partikel powder sehingga pada saat partikel-partikel tersebut menumbuk permukaan benda kerja kecepatannya masih tinggi. Selain itu hal penting lainnya adalah bentuk partikel yang berada dalam keadaan cair atau setengah cair pada saat tumbukan dan tidak overheat agar dapat membentuk coating yang padat.
Pembentukan coating hasil proses thermal spray diawali pada saat butiran-butiran partikel cair menumbuk permukaan part yang telah dipersiapkan sebelumnya, biasanya dengan cara pengkasaran menggunakan metoda grit blasting. Partikel cair akan menyebar dan membeku secara cepat pada permukaan benda kerja dan terkunci pada permukaan yang tidak rata. Partikel-partikel cair akan terus menerus terdeposisi ke permukaan material coating yang telah terdeposisi lebih dahulu, dengan kecepatan flux mencapai jutaan partikel cair per cm²/detik dengan ukuran partikel 10 – 100 µm. Pada saat penumbukan, butiran material coating yang cair akan memipih pada permukaan benda kerja yang bertindak sebagai “heat sink” (wadah panas). Partikel-partikel cair akan kehilangan energi kinetisnya karena bertransformasi menjadi energi panas dan deformasi. Suatu model mengenai “solidifying splat” yang memperlihatkan proses dinamis dari pembekuan partikel selama spray, diilustrasikan pada gambar 2.4 berikut ini, adalah hasil dari studi mengenai sifat-sifat partikel cair selama proses thermal spray menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) dan TEM (Tranmission Electron Microscope).

Pelapisan

Pelapisan merupakan salah  satu  upaya untuk menanggulangi korosi dan penambalan material aus.  Sistem perlindungan utamanya ditujukan untuk memisahkan kontak langsung antara logam dengan lingkungan agar tidak terjadi korosi, dan juga untuk mendapatkan sifat-sifat lain seperti ketangguhan, kekerasan, ketahanan aus, dan lain-lain. Pada umumnya proses pelapisan harus melalui tahapan pengerjaan antara lain pekerjaan pendahuluan, proses pelapisan dan pengerjaan akhir. Pekerjaan pendahuluan adalah pembersihan sedemikian rupa bahan yang akan dilapis dari pengotor, karena persiapan permukaan bahan dasar yang kurang sempurna akan mengakibatkan daya lekat (adhesi) lapisan berkurang. Setelah proses pembersihan dilakukan kemudian proses blasting dilakukan untuk mengkasarkan permukaan sebelum dilakukan spraying. Pekerjaan pendahuluan ini dapat dibagi dalam dua metoda yaitu dengan cara mekanik seperti polishing, buffing, semprot abrasive, sedangkan cara kedua adalah dengan larutan kimia seperti cuci lemak/minyak, cuci asam, proses zincate, dan lain-lain.
Dalam proses pelapisan, banyak metoda yang dapat digunakan tergantung pada fungsi dan kegunaan produk yang akan dilapis. Teknik-teknik pelapisan tersebut bias berupa teknik pelapisan dengan listrik, tanpa listrik, pencelupan (dipping), semprot (spraying) dan lain-lainnya dibatasi dengan bahan pelapisan logam dan non logam.
 Produk/ logam yang telah dilapis ada yang diperlukan proses lanjut dengan tujuan untuk mendapatkan kemampuan daya tahan korosi, memperbaiki tampilannya. Untuk itu diperlukan pengerjaan akhir dengan cara bubut, cutting, dan lain-lain, sedangkan untuk memperhalus permukaan lapisan yang kasar dapat dilakukan dengan cara mekanik yaitu polishing, buffing, barreling, dan lain sebagainya. Pengerjaan akhir ini, banyak dilakukan pada proses lapis dengan logam baik secara semprot (metal spraying), celup panas (hot dip), secara listrik (electroplating) dan pada proses anodisasi (anodizing) sebagai proses pewarnaan.

Baja Paduan

Baja paduan adalah sekelompok baja yang mempunyai kekerasan yang tinggi karena adanya unsur-unsur paduan selain karbon, biasanya unsur paduan yang ditambahkan adalah unsur-unsur pembentuk karbida, misalnya Ni, Mn, Ti, Mo, Cr, W, Sn, dan lain-lain. Tujuan penambahan unsur paduan terutama untuk meningkatkan sifat dari baja tersebut.[6]
Berdasarkan kandungan unsur paduannya maka baja paduan secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
-  Baja paduan rendah, bila unsur paduan selain karbon < 8%
-  Baja paduan tinggi, bila unsur paduan selain karbon diatas 8%
Setiap jenis baja diatas mempunyai perbedaan sifat, misalnya :
·         Sifat fisik   :                - berat jenis
- titik cair
- konduktifitas panas
- konduktifitas listrik
·         Sifat mekanik :            - kekerasan
- kekuatan
- keuletan
- ketahanan impact

·         Sifat teknologi :          - mampu las
- mampu bentuk
- mampu cor
- mampu mesin
·         Sifat kimia :                 - ketahanan korosi

Telah dijelaskan diatas bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam baja paduan sangat mempengaruhi sifat-sifat baja tersebut. Pengaruh unsur-unsur paduan tersebut misalnya adalah seperti berikut ini :

·         Mangan
-          Berfungsi sebagai deoksidan
-          Mengikat belerang (sulfur = S), sulfur dan besi akan membentuk besi sulfida (FeS) yang titik cairnya rendah, mengakibatkan timbulnya rapuh panas (hot shortness).
-          Mangan bereaksi dengan sulfur membentuk mangan sulfida (MnS) yang mempunyai titik cair tinggi
-          Dapat menghaluskan perlit, sehingga terjadi peningkatan kekuatan dan ketangguhan

·         Wolfram
-          Menambah kekerasan dan dapat bertahan pada temperatur tinggi
-          Karena sifatnya yang keras banyak digunakan untuk tool steel dan high speed steel.

·         Nikel
-          Meningkatkan sifat-sifat mekanisme tertentu ductility dan kemampuan dikeras
-          Tahan korosi dan asam
-          Pemakaian kadar nikel yang tinggi menyebabkan turunnya sifat magnit pada baja
-          Memiliki koefisien yang rendah

·         Molibdenum
-          Menambah kekerasan dan kekuatan terutama pada temperatur tinggi
-          Menambah kemampuan untuk dikeraskan

·         Chrom
-          Menaikan kekuatan tarik dengan sifat plastis yang sangat tinggi
-          Menambah besar kemampuan untuk dikeraskan
-          Menambah daya tahan terhadap korosi dan temperatur tinggi

·         Nitrogen
-          Keberadaan nitrogen harus serendah mungkin (karena mudah terbentuk oksida)
-          Mencegah pengetsaan (dapat mengikat unsur-unsur impuritis)

·         Fosfor
-          Meningkatkan kuat tarik dan batas luluh
-          Menurunkan sifat plastis
-          Keberadaan fosfor diizinkan 0,05% agar tidak terjadi Fe3P (besi fosfor)

·         Silikon
-          Berfungsi sebagai oksidan
-          Menambah kekuatan, elastisitas dengan sifat plastis yang cukup tinggi
-          Menambah daya tahan terhadap asam pada temperatur tinggi
-          Meningkatkan daya tahan listrik

·         Sulfur
-          Menurunkan sifat mekanis dan korosi
-          Menurunkan keuletan dan mampu las
-          Dapat dinetralisir/diperbaiki dengan adanya mangan

·         Aluminium
-          Berfungsi sebagai deoksidan
Aluminium oksida (Al2O3) akan mengambil tempat pada batas butir yang berfungsi sebagai penghalus butir dan mencegah pertumbuhan butir pada saat proses pemanasan.

Baja

Baja adalah paduan besi (Fe) dengan karbon (C) dimana kandungan karbonnya tidak melebihi 2 %. Kandungan minimum untuk almunium (Al), Chrom (Cr), Cobalt (Co), Molybdenum (Mo), Nickel (Ni), Titanium (Ti), Wolfram (W), Vanadium (V), Zircon (Zr) atau unsur lain tidak dinyatakan. Sedangkan kandungan Sulfur (S) dan Fosfor (P) tidak lebih dari 0,05%, dan  kandungan mangan (Mn), Silikon (Si), tidak melebihi persentase 1,65%. Besi dan paduannya mencapai 95% dari produksi logam di seluruh dunia dimana lebih dari setengahnya berupa baja. Sifat-sifat secara umum dapat dibaca melalui suatu diagram yang disebut diagram fasa Fe dan C seperti terlihat pada gambar 2.1 di bawah ini.[6]


Gambar 2.1 Diagram kesetimbangan fasa Fe-Fe3C[6]
     


Hal-hal yang penting dari diagram tersebut adalah :
1.      Transformasi alotropi adalah adanya transformasi dari suatu bentuk susunan atom (sel satuan) kebentuk susunan atom lain
2.      Senyawa logam Fe3C atau sementit
3.      Titik eutektoid adalah adanya transformasi dari salah satu fasa (γ) menjadi dua fasa padatan (α dan Fe3C)
4.      Titik eutektik adalah adanya transformasi dari satu fasa cair menjadi dua fasa padatan γ dan Fe3C (ledeburit).
Baja ini dapat diolah bentuk secara mekanis, yang mana kemampuan untuk di olah bentuk ini sangat tergantung pada kadar karbonnya. makin tinggi kadar karbon, maka makin sukar dibentuk.
Titik cair besi murni adalah 1539˚C dan baja-baja yang bersifat umum titik leburnya antara 1400˚C - 1500˚C. Baja secara garis besarnya dapat dibagi kedalam dua jenis sesuai dengan komposisinya yaitu baja karbon dan baja paduan.